Wednesday, February 10, 2010

MERASA TAK MENEMUKAN KEBAHAGIAAN SEORANG MILARDER JUAL KEKAYAANYA UNTUK SOSIAL.

Kalau Bangladesh punya Muhammad Yunus, seorang bankir dan ahli ekonomi yang peduli dengan kemajuan ekonomi masyarakat miskin hingga mengusulkan sebuah konsep bank pemberdayaan masyarakat atau yang terkenal dengan sebutan grameen bank, Austria ternyata punya tokoh mirip-mirp Yunus.

Seorang miliarder bernama Karl Radeber baru-baru ini tergerak untuk melakukan hal serupa. Radeber memang tidak menawarkan konsep baru tapi mendirikan lembaga kredit mikro dengan seluruh kekayaan pribadinya, dengan alasan ia tidak merasa bahagia dengan kekayaannya dan merasa bahwa kemiskinan yang dialami sebagian penduduk dunia ada hubungannya dengan kekayaan yang didapat sebagian penduduk dunia lainnya.

Pengusaha aksesoris interior itu dikabarkan sedang menjual aset-asetnya seperti vila di pegunungan Alpine, rumah tinggal, mobil mewah, gantole, serta aksesoris pribadinya untuk membiayai pendirian dua mikro kredit di Amerika Tengah dan Selatan.

Rabeder mengatakan ia telah lama memiliki niat itu karena kehidupan mewah dirasakan olehnya tidak memberi kebahagiaan namun tidak pernah berani merealisasikan niat itu sebelumnya. "Saya berwisata bersama istri saya ke Hawaii dan menghabiskan uang sebanyak yang kami bisa tapi kami tidak menemui ortang tulus. Pelayan berpura-pura ramah, para tamu bersikap sok penting."

Kemudian perjalanan ke Amerika menunjukkan kemiskinan di kawasan itu yang membuatnya merasa bahwa sebenarnya ada hubungan antara kemiskinan dei kawasan itu dengan kekayaan yang ia dapat.

Rabeder berhenti disitu tanpa menjelaskan maksudnya atau memberi contoh, tetapi sudah menjadi rahasia umum bahwa perusahaan-perusahaan multinasional selalu mencari kawasan baru di pelosok mana pun untuk mendirikan pabrik mereka di mana bahan baku dan tenaga kerja bisa didapat dengan harga sangat murah.

Rabeder sendiri mengatakan ia akan pindah ke rumah kayu di kawasan pegunungan di negara Austria. Kalau Bangladesh punya Muhammad Yunus dan Austria punya Karl Rebeder, lalu Indonesia punya siapa?
(the telegraph)

0 komentar:

Post a Comment